Featured image by Alldino (flickr)

Untuk teman-teman yang saat ini sedang berada dalam semester pra-kritis (semester 6) mungkin sedang mempersiapkan event besar pengabdian atau KKN yang ga lama lagi bakal kalian lakukan. Mahasiswa-mahasiswi(unyu) yang masih semester muda juga sepertinya sedang sibuk dengan urusan organisasinya masing-masing. Tapi ga ada salahnya untuk meluangkan waktu sebentar memikirkan apa rencana kalian setelah lulus S1 nanti. Ini penting. Waktu 4 tahun di kampus itu ga lama-lama banget. Mahasiswa semester 2 pasti pernah ngerasa “Ih, kayanya baru setahun yang lalu kita ikut Palapa, udah semester 2 aja”. Gapapa kalau kzl. Lanjut ya.

Kenapa saya menyarankan agar teman-teman untuk memikirkan apa rencana kalian setelah lulus S1 nanti dari sekarang juga? Ya biar kalian punya pegangan. Punya tujuan. Punya alasan untuk lulus tepat waktu. Orang yang punya pegangan, jika diterpa gangguan cenderung tidak mudah goyah. Jika teman-teman punya tujuan pengen lanjut S2 S3 di luar negeri atau dalam negeri, bekerja di perusahaan bonafide, atau menjadi entrepreuner, maka itulah yang teman-teman mesti pegang. Pengalaman penulis yang kurang punya pegangan sewaktu S1 dulu jadi pelajaran buat teman-teman semua, agar teman-teman ga perlu merasa pernah kecewa ketika sedang menjalani nanti. Apa maksudnya saya sedang mengutarakan kekecewaan? Ya. Dulu pernah. Sedikit. Muncul pertanyaan menyalahkan diri seperti “kenapa saya ga menunggu sebentar lagi aja untuk bisa apply S2 ke luar negeri” atau “kenapa ga langsung melamarnya aja”. nya di kalimat sebelumnya refers to pekerjaan ya. Tapi lambat laun setelah menjalani jalur cepat ini beberapa semester, saya tanya lagi ke diri saya sendiri. Kenapa harus kecewa? Jawabnya ada di ujung langit 🙂

Hmm sebenarnya ini ga ada yang nanya model ginian langsung ke saya sih . Tapi biar ceritanya kelihatan agak mengalir dibuat Q and A aja ya.

Jalur cepat apaan sih?

opo to iki

Jalur cepat atau Fast Track adalah sebuah program percepatan yang disediakan oleh kampus-kampus seperti UGM, ITB, UI dan univ besar lainnya yang mana mahasiswa dapat melanjutkan studi S2 nya selagi ia sedang menjalankan studi S1. Biasanya Fast Track ini dimulai saat mahasiswa ada di semester 7 S1. Dengan program ini, mahasiswa dapat meraih gelar sarjana dan masternya dalam waktu 5 tahun, atau dengan kata lain setahun lebih cepat dari program reguler. Jadi dalam 5 tahun teman-teman bisa menyandang gelar misal, Fulan, S.T., M.Eng.

Program ini sangat cocok buat teman-teman yang dari SD dah niat jadi dosen. Percepatan waktu tempuh kuliah seperti ini sangat membantu buat teman-teman yang memang ingin meniti karir di bidang akademik. Kalau yang dari awal sudah niat bekerja di perusahaan bonafide, ya ngapain kan ambil program ini. Kalau yang masih lalalolo belum tahu tujuan setelah lulus, program ini bisa menjadi alternatif pilihan. Kembali lagi bahwa selera orang itu berbeda-beda. Aku suka kamu. Kamu sukanya dia. Terbukti kan, selera orang berbeda-beda :).

Wah menarique, syarat-syaratnya apa tuh?

Untuk syarat-syarat supaya teman-teman bisa ikut program FastTrack, biasanya dari satu instansi ke instansi lain berbeda-beda. Departemen saya (DTETI UGM) menyaratkan poin-poin utama seperti :

  1. Sudah menyelesaikan 120 SKS dengan IPK minimal 3.51 (Cumlaude) dan sudah menjalankan KKN
  2. TOEFL > 450 dan tes TPA > 500.

Nah poin di atas adalah harga mutlak. Di DTETI sendiri, mahasiswa-mahasiswa yang sudah memenuhi kriteria nomor 1 akan diundang dan ditawarkan program tersebut. Dari 35 teman yang diundang , hanya 16 yang mengiyakan tawaran tersebut, termasuk saya. Untuk syarat kedua mau ga mau teman-teman harus ikut tes TOEFL (UGM bisa pake AcEPT) dan TPA yang harus diserahkan maksimal di akhir bulan Desember. Untuk teman-teman saya rasa ga perlu ikut program persiapan AcEPT TPA yang sering diiklanin di tiang-tiang listrik itu. Langsung ikut tesnya aja, inshaAllah lolos.

Setelah mengisi formulir dan tanda tangan di atas materai 6000, esok harinya biasanya akan ada wawancara dengan para dosen. Saya lupa pertanyaannya apa aja. Wawancara ini lebih ke formalitas untuk mengetahui seberapa besar niat kita mengikuti program Fast Track. Toh semua teman yang mengikuti wawancara akhirnya lolos. Pun yang ga ikut wawancara haha. Soalnya, beberapa bulan kemudian, ketahuan kalau ada nama teman saya  di daftar peserta Fast Track , padahal dia mengumpulkan formulir tapi ga ikut wawancara. Keputusan akhir mereka yang ga ikut wawancara pun sudah bulat, yaitu untuk ga melanjutkan Fast Track.

Oke. Lalu Kenapa Ambil Tawaran Fast Track ?

kira-kira kek gini paniknya waktu itu

Saya baru tahu jika sedang ditawari program FastTrack ini beberapa jam sebelum deadline pengumpulan formulir. Pada hari itu, jam 3 malam saya baru sampai Jogja setelah perjalanan laut-udara-darat dari tempat KKN. Pada hari yang sama, pagi harinya sudah ada jadwal kuliah jam 7.30 dan kudu berangkat. Setelah ber-hahahihi dengan teman sekelas sepulang dari KKN dan mengikuti kuliah, akhirnya kabar itu datang. Seorang teman bertanya apa saya mau ambil tawaran itu. Lah mau jawab apa, wong tawarannya aja ga tahu. Akhirnya, dijelaskan sama aku punya kawan itu bahwa ada tawaran FastTrack yang diumumkan lewat WEBSITE dan harus dijawab sore itu juga. Lah mana tau saya ada tawaran seperti itu, wong di tempat KKN aja dapat sinyal syukur alhamdulillah.

Sejak itu, saya punya waktu kepanikan sebanyak 6 jam untuk memutuskan apakah saya mengambil tawaran tersebut atau tidak. Saya menghubungi orang tua, saudara, teman, gebetan, mantan, gebetan mantan, mantan gebetan tapi yang menjawab hanya kakak perempuan saya yang dengan bijak luar biasa menyarankan saya untuk kerja aja abis lulus bantu orang tua. Duh. Ga sesuai ekspektasi. Menjelang pengumpulan deadline, akhirnya orang tua bisa dihubungi dan memberi jawaban lebih bijak dari yang sebelumnya. Beliau menyarankan untuk mengikuti apa kata hatiku waktu itu dan menyerahkan sisanya dengan berdoa ke Allah agar keputusanku ga keliru. Jika ada biaya, nanti ibu bapak siap usaha yang terbaik. Nah gini dong mbak kalo nasihatin anak haha, bathinku waktu itu. Kata hatiku waktu itu sebenarnya masih agak bimbang menimbang-nimbang keinginan untuk lanjut S2 di luar negeri pula atau berpikir bahwa kerja dapat duit kayanya lebih enak. Tetapi, setelah melihat dari sudut pandang bahwa setiap kesempatan harus dimaksimalkan, akhirnya saya ambil tawaran itu.  Menjelang jam 3, saya dan teman saya, sebut saja Raditya Chandra Buana menjadi orang terakhir yang mengumpulkan formulir tersebut ke ruang akademik. Esoknya, Chandra ga datang wawancara dengan alasan lupa tertidur hingga akhirnya memutuskan ga lanjut. Kowe ncen jahat can 🙁

Panjang amat Ya rabb 🙁

Kan kamu suka yang panjang-panjang ha.ha.ha

Kalau pengalaman dan suka duka merasakan Jalur Cepat (Fast Track) UGM?

Ya. Itu judul artikel ini.

Kok kzl ya. Setelah 2 tahun, udah ngapain aja di setiap semester nya , pengalaman apa yang didapat ?

Semester 1 berakhir dengan Surat Peringatan 1 dari jurusan yang tiba-tiba ditujukan ke saya. Alasannya adalah IP saya yang di bawah standar. IP saya di surat peringatan itu tertulis 2,98. Padahal ada satu matkul yang belum dimasukkan 🙁 . Ultimatum pun disampaikan jika saya ga bisa menaikkan IPK menjadi lebih dari 3,00 di semester berikutnya, maka saya diminta untuk mengundurkan diri. Saya mengkambinghitamkan kerja magang saya yang makan waktu 2 bulan di Garuda yang membuat IP kendor tersebut. Padahal, jika saya bisa lebih baik lagi berkomunikasi dengan dosen dan sedikit ngoyo meminta perbaikan nilai, mungkin akan beda cerita. Jadi pelajaran juga untuk teman-teman untuk bisa atur waktu sebaik mungkin

Semester 2 S2 yang sekaligus semester 8 di S1 itu jadi ajang penentuan. Jika teman-teman tidak bisa yudisium di bulan Agustus, maka status S2 akan dicabut. Singkat cerita, alhamdulillah saya bisa pendadaran dan yudisium di bulan Agustus itu. Telat 3 hari saja waktu yudisium saya, sudah tamat riwayat saya di S2. Oh iya, pada dua semester awal teman-teman akan diminta oleh departemen untuk menjadi tutor buat adek-adek maba menjelang pelaksanaan UTS dan UAS. Ajang ini kerap dimanfaatkan teman-teman Fast Track untuk silaturahmi lebih dekat dengan maba-maba gemas. 

Di semester 3 kami masih mengikuti kuliah. Selain merampungkan mata kuliah wajib, diambil pula mata kuliah pilihan yang idealnya sesuai topik tesis. Oh iya, untuk topik tesis sangat dianjurkan untuk sama dengan topik skripsi yang diambil saat S1. Setidaknya, itu untuk menghemat waktu biar ga garap tesis dari nol. Di semester 3 juga, teman-teman Fast Track mayoritas mengikuti sebuah konferensi internasional. Publikasi internasional ini menjadi salah satu syarat agar kami bisa lulus. Pastikan juga proposal tesis setidaknya sudah tersubmit di semester ini biar di semester 4 fokus di pengerjaannya.

Nah di semester 4, idealnya sudah ga ngambil mata kuliah apapun. Fokus hanya di pengerjaan tesis. Tapi ini juga susah susah sulit 🙁 Butuh konsistensi dan motivasi yang terus terjaga selama satu semester itu. Ini saya juga sedang mengumpulkan motivasi untuk menyelesaikan tesis yang deadline nya sudah semakin dekat ini. Godaan sangat banyak. Yang jelas, pengerjaan tesis adalah langkah besar terakhir dalam perjalanan S2. Setelah mengerjakan tesis, pra pendadaran dan pendadaran tinggal menunggu waktunya. Dan sekali lagi ini ga mudah, setidaknya bagi saya pribadi waktu itu. Dan nyatanya memang demikian. Semester 4 ini, saya belum bisa lulus tepat waktu sesuai yang diharapkan.

Penghujung semester 4, saya justru mencoba melamar beberapa pekerjaan, salah satunya di IBM untuk Consulting Graduate Program. Cukup bergengsi, tapi sayang di tahap akhir saya ga lolos. Saya pikir jadi ada hikmahnya untuk fokus mengerjakan ketertinggalan thesis yang sudah kedodoran itu. Ternyata tidak semudah itu Ferguso. Masuk semester 5, justru semakin keteteran setelah saya yang ga pandai mengatur waktu saat itu, menerima tawaran project yang cukup besar. Teman-teman seperjuangan, 4 orang sudah lulus di bulan Oktober 2018, menyisakan saya dan 1 orang lagi. Akhirnya benar saja, saya belum lulus juga setelah semester 5 berakhir. Itu artinya apa? Saya hanya punya 1 kesempatan lagi untuk lulus, yaitu di semester 6.

Semester 6 saya habiskan di perpustakaan pusat universitas untuk sebisa mungkin merampungkan thesis yang sebenarnya prosesnya tinggal 10% itu. Mengerjakan thesis tidak mudah, apalagi dengan sisa-sisa semangat yang ada. Akhrinya dengan segala perjuangan dan drama yang ada, yang mungkin bisa dijadikan satu posting panjang lagi, saya dan satu teman lainnya di program fasttrack ini dinyatakan lulus tepat beberapa hari sebelum deadline. Deadline yang apabila kami lewat tanggal itu, tidak ada harapan lagi untuk bisa lulus S2 di UGM yang sudah dijalani 3 tahun itu.

Program yang terkesan ironi bagi saya karena namanya FastTrack, tetapi justru lulus lama ini, banyak memberi pembelajaran hidup yang berharga bagi saya. Segala pembelajaran dan perjuangan yang melibatkan doa banyak orang. Jika diingat-ingat, masih tidak percaya rasanya bisa menyelesaikan pendidikan S2 itu dengan segala keterbatasan yang ada.

Akhirnya, Oktober 2018 saya lulus dengan bangga. Bukan karena hasil dan gelar yang diraih, tetapi lebih karena ternyata mampu melalui proses-proses yang menguras emosi, tenaga, waktu dan materi selama 3 tahun terakhir. Bagi teman-teman yang sedang melalui proses-proses, selamat berjuang dan bersiaplah menyambut hasil kerja kerasmu pada saatnya nanti.

Selesai.