HARI PENGUMPULAN APLIKASI (9 Maret 2015)

Baru kali ini aku, Fajri, Muin dan Dian membentuk satu tim untuk mengikuti kompetisi. Tim ini kami beri nama InsyaAllah Berkah, dengan harapan tim kami dipenuhi keberkahan dalam setiap langkahnya. Padahal ya cuma untuk menyesuaikan tema lomba, yaitu Islam ICT. Tanggal waktu itu sudah menunjukkan deadline pengumpulan prototype aplikasi. Kami sudah yakin, pasrah lebih tepatnya, prototype aplikasi yang kami submit setidaknya sudah memenuhi persyaratan lomba. Lolos ke babak final jelas menjadi target kami berikutnya.

Beberapa hari terakhir sebelum pengumpulan aplikasi kami lalui dengan minim tidur, setiap malam begadang menyelesaikan fitur-fitur aplikasi yang bahkan setiap harinya kami tambahkan sendiri. Tidak tahu diri memang. Hari-hari selanjutnya kami hanya bisa berharap-harap cemas esok pada saat hari pengumuman peserta final, tim kami ada dalam daftar.

HARI PENGUMUMAN FINALIS (16 Maret 2015)

Hari ini tepat tujuh hari dari deadline pengumpulan prototype. Seharusnya hari inilah hari pengumuman yang kami tunggu-tunggu itu. Hingga menjelang tengah hari, tidak ada satupun email yang masuk dari panitia lomba. Kami semakin was-was. Di grup whatsapp tim, kami sudah membahas kemungkinan-kemungkinan terbaik dan terburuk. Skenario terbaiknya kita masuk final dan akan meneruskan pengerjaan aplikasi, terburuknya kita akan segera lupakan aplikasi itu dan kembali ke kehidupan masing-masing. Kami beberapa kali kembali mengecek inbox email, dan hasilnya tetap nihil. Barulah setelah salah satu dari kami meng-kepo twitter lomba, ternyata pengumuman bukan diumumkan lewat email, melainkan langsung lewat twitter. Kami merasa tertipu. Lagian siapa suruh mantengin email.

Malam harinya, saat panitia mulai men-tweet pengumuman, BPM kami naik drastis. FINALIS KATEGORI GAME ISLAM ICT FAIR 2015 : CRIVE STUDIO, MOVE UP, MANINGO STUDIO, HEAVEN SUNDAES ALLIANCE, ARTP. Tidak ada nama tim kami. Oh tunggu, ternyata itu bukanlah kategori kami. Kategori tim kami adalah kategori aplikasi. Kami merasa lega sekaligus senang. Ada dua tim dari teman kami yang lolos. Sebelumnya kami sudah membayangkan asyiknya jika tim kami dan dua tim lainnya berhasil lolos. Naik kereta rame-rame, nginep di Jakarta rame-rame, lomba rame-rame. Panitia kembali mengumumkan finalis dari kategori design. Muncul nama tim dari kampus kami. Kami pun semakin optimis menyongsong pengumuman kategori berikutnya melihat pola itu.

FINALIS KATEGORI APLIKASI ISLAM ICT FAIR 2015. SMTI07. CX. WORKSHOP CE. BRAVO. E-MAGINE. Tidak ada nama tim kami. Kami cek lagi nama kategorinya. Benar, itu adalah kategori kami. Kami cek lagi satu persatu nama tim yang ada dalam daftar. Kami eja. Tidak ada satupun dari ejaan kami itu yang membentuk kata INSYAALLAH BERKAH. Tim kami tidak lolos final. Seketika itu pun kami lemas. Pola bahwa setiap kategori itu ada perwakilan dari kampus kami itu ternyata hanya kebetulan belaka, tidak berlaku untuk kami. Kami jelas kecewa dan sedih. Lebih sedih lagi ketika sadar bahwa tim kami tidak lolos sedangkan kedua tim teman kami telah lolos dan akan berangkat ke Jakarta beberapa hari lagi. Skenario kami yang tersisa adalah melupakan kompetisi itu dan kembali ke kehidupan masing-masing. Kami mengaku kalah.

H-2 FINAL (19 Maret 2015)

Kami sudah bisa menjalankan skenario terburuk yang kami rencanakan, ketika tiba-tiba sesuatu yang tidak pernah kami duga terjadi pada malam hari itu. Sore harinya, kedua tim teman kami dari CRIVE STUDIO dan MOVEUP sudah berangkat ke Jakarta untuk berlomba lusa harinya. Kami hanya bisa melihat dan mendoakan yang terbaik untuk mereka. Waktu itu hampir menunjukkan jam 9 malam, saat Muin mendapat pesan dari ketua panitia bahwa salah satu tim finalis dari kategori aplikasi mengundurkan diri. Dia juga menyebut bahwa tim kami kebetulan ada di posisi 6. Ketua panitia itupun menawarkan tim kami untuk ikut berlomba di final. Sesuatu yang kami harapkan beberapa hari yang lalu. Tetapi saat ini keadaannya sangat berbeda.

Ini sudah 2 hari menjelang perlombaan, tim kami sama sekali tidak ada persiapan sejak ‘kekalahan’ kemarin. Tim finalis lain jelas mempunyai waktu lebih untuk mempersiapkan segalanya. Apalagi waktu itu, Dian sedang sakit DB dan tidak mungkin bisa berangkat bersama kami bertiga. Setelah berdiskusi di grup whatsapp, kami yang mulanya hampir merelakan kesempatan itu karena melihat waktu yang begitu mepet, akhirnya berkeputusan bulat untuk nekat berangkat Jakarta esok harinya. Maka, sejak keputusan itu kami  buat dan kami sampaikan ke ketua panitia, dibuatlah rencana-rencana yang membuat kami tidak tidur malam itu.

Kami memutuskan untuk mempersiapkan segalanya untuk final di kos Muin. Di kamar seluas 2,5x3m itu, Muin mulai memesan tiket kereta api untuk Yogyakarta-Jakarta PP  dan tugasku adalah men-design mulai dari stiker, flyer, x-banner, kartu nama hingga template presentasi. Sementara itu Fajri lebih menyedihkan, ia harus menyelesaikan fitur-fitur dan mencari bug yang mungkin ada di aplikasi kami, Muslim Traveler. Waktu itu, aku sebenarnya agak kasihan melihatnya, karena sementara aku dan Muin masih bisa haha hihi , Fajri harus konsentrasi penuh untuk mengerjakan. Ditemani makanan dan minuman ringan untuk mengerjakan, kami bertiga pun terjaga hingga hampir pagi.

H-1 FINAL (20 Maret 2015)

Pagi itu kami kembali berbagi tugas. Fajri menyelesaikan aplikasi, Muin mencetak semua design dan aku mempersiapkan bahan presentasi. Ternyata kabar bahwa kami ‘diloloskan’ ke final sampai ke tim teman kami yang sudah lebih dulu tiba di Jakarta. Dengan antusias, mereka menitipkan sesuatu untuk dicetak di Jogja. Karena kami adalah teman yang baik, kami pun menyanggupinya dengan service fee 50rb. Haha.

Menjelang keberangkatan, segalanya terasa menjadi lebih rumit. Bahkan design yang kami cetak baru diambil saat kami berangkat ke stasiun. Sampai di stasiun, kami masih mempunyai waktu 15 menit sebelum keberangkatan. Kami sempatkan mengecek design yang telah dicetak dan ternyata banyak typo di sana sini. Bahkan, QR Code untuk mendownload aplikasi yang kami pasang di x-banner tidak bisa kami scan. Aku beralasan, men-design sesuatu tengah malam memang bukan perkara mudah, apalagi jika bukan keahliannya. Tidak ada waktu lagi untuk revisi hal-hal seperti itu. Kami berangkat apa adanya.

Perjalanan kereta ekonomi yang memakan waktu hampir 8 jam itu kami habiskan untuk kembali mengerjakan apa-apa yang belum selesai. Fajri seperti biasa tenggelam di layar laptop-nya memperbaiki bug-bug aplikasi, sementara aku dan Muin mempersiapkan dan berlatih presentasi untuk lomba besok pagi. Tiga-empat jam pertama perjalanan kami masih kuat. Setelahnya, badan dan otak kami menolak bekerja lebih lama lagi. Begadang di hari sebelumnya membuat kami kelelahan.

Empat jam terlelap, tidak terasa kami sudah hampir sampai tujuan, stasiun Jatinegara. Di sana, orang tua Fajri telah menunggu untuk menjemput kami menuju rumahnya di daerah Jakarta Timur. Kami bersyukur ada tempat menginap selama kami di Jakarta, apalagi itu rumah anggota tim sendiri.

FINAL DAY (21 Maret 2015)

Sesampai di rumah Fajri, kami tidak bisa langsung tidur. Waktu sudah hampir subuh. Sambil terkantuk-kantuk, kami menunggu waktu subuh. Ibu Fajri berbaik hati menyuguhi kami dengan minuman hangat. Cukup untuk membuat mata kami sedikit melek. Setelah sholat subuh dan berdoa untuk kelancaran lomba beberapa jam lagi, kami kembali ke pekerjaan. Hasil cetakan design yang masih berupa kertas-kertas besar menambah pekerjaan kami, yaitu memotong kertas agar sesuai dengan ukuran stiker atau flyer. Belum lagi proposal masih belum kami cetak. Fajri pun sibuk mencari printer untuk mencetak proposal itu.

Pukul 6.15 kami sudah selesai sarapan , packing semua perlengkapan dan siap berangkat. Kami diantar oleh Ayah Fajri ke tempat lomba di Universitas Indonesia. Pukul 07.00 kami sudah sampai di kompleks kampus UI , mencari-cari gedung yang menjadi tempat lomba, Pusat Studi Jepang. Pukul 07.15 kami sudah sampai tempat tujuan, tetapi tidak ada tanda-tanda tempat tersebut akan ada suatu event. Tidak ada spanduk. Tidak ada banner-banner. Tidak ada keramaian. Barulah beberapa menit kemudian, ada panitia yang memasang spanduk bertuliskan kompetisi yang kami ikuti, Islam ICT Fair 2015. Ternyata kami datang terlalu pagi.Dua tim teman kami datang beberapa saat kemudian.

Sambil menunggu pembukaan lomba dan undian presentasi, kami sempatkan bercerita ke teman-teman betapa hectic nya tim kami waktu itu. Mempersiapkan final yang seharusnya finalis normal lainnya lakukan dalam waktu 5 hari, kami lakukan hanya dalam waktu kurang dari 48 jam. Kami hanya bisa berusaha semaksimal mungkin dan menyerahkan sisanya pada Allah. Mungkin saja ada keajaiban lagi di final ini, pikir kami waktu itu.

Pembukaan lomba diakhiri dengan undian nomor urut presentasi. Tim kami mendapat nomor urut terakhir. Itu artinya kami punya waktu lebih untuk mempersiapkan sekaligus waktu lebih lama untuk deg-degan menunggu giliran. Kami tidak duduk diam menunggu peserta lain presentasi lebih dulu karena panitia menyediakan booth untuk memamerkan produk kami. Kami memasang x-banner dan poster di booth. Flyer dan stiker untuk setiap pengunjung yang mampir juga kami bagikan. Sesekali kami juga berkeliling mengunjungi booth peserta lain. Aplikasi dan game mereka bagus-bagus, sangat layak masuk final.

Menjelang istirahat siang, tim kami belum juga dipanggil maju. Barulah sekitar jam satu siang, siap tidak siap, kami harus menghadap tiga juri untuk mempresentasikan aplikasi. Muin bertugas sebagai presentator sedangkan aku melakukan demo aplikasi. Fajri ? Karena dia sudah banyak berjuang sebelumnya, kami putuskan dia bertugas yang mudah-mudah saja, menjadi operator. Presentasi yang berjalan 15 menit itu berjalan dengan lancar sampai sesuatu yang tidak kita harapkan saat demo aplikasi terjadi.

Aplikasi kami memiliki fitur yang salah satunya adalah untuk mencari tempat-tempat umum terdekat, seperti masjid, rumah makan, dan banyak lainnya. Saat juri mencoba langsung fitur tersebut di aplikasi kami, terdapat error yang sebelumnya tidak dijumpai. Intinya kami lupa untuk membuat exception handling pada error tersebut. Memang tidak sampai membuat force cloce aplikasi, tetapi error tetaplah error, dan juri langsung mengetahuinya. Kami sebenarnya kurang puas dengan hasil demo tersebut. Akan tetapi komentar juri yang cenderung positif menghidupkan harapan kami lagi. Selesai presentasi, kami tetap harus kembali ke tempat pameran dan menunggu sampai waktu pengumuman. Sekali lagi, waktu itu kami kembali menyerahkan semuanya pada Allah dan berharap ada keajaiban.

Waktu hampir menunjuk pukul 17.00 ketika semua peserta diminta berkumpul dalam suatu ruangan besar untuk dibacakan pengumuman. Wajah-wajah peserta yang kelelahan semakin menambah ketegangan. Setiap tim finalis tentu berharap menjadi yang terbaik. Mereka sudah menampilkan presentasi terbaik dan inilah saat bagi kami dan mereka semua mendengarkan apakah harapan itu akan berwujud nyata.

Kategori yang pertama dibacakan adalah kategori game. JUARA TIGA : CRIVE STUDIO. Ya, itu tim teman kami. Persis di depan kami, tim MOVEUP masih terlihat santai. JUARA DUA : HEAVEN SUNDANE APPLIANCES. Mereka sedang saling menguatkan satu sama lain ketika pembawa acara membacakan juara pertama dan berakhir dengan kata MOVE UP. Mereka hampir tidak percaya, pun kami. Kembalinya dari panggung, kami menyalami mereka yang luar biasanya berhasil menjadi juara 1 dan 3 mengalahkan tim-tim lainnya.

Menunggu dalam keadaan seperti ini membuat kami lebih terbebani. Tim teman kami sudah mengantongi juara satu dan tiga. Harapan kami waktu itu adalah paling tidak kami membawa juara ketiga agar tim teman kami itu tidak merasa malu-malu banget punya teman seperti kami. Pembawa acara menambah masalah dengan membacakan sponsor-sponsor yang turut membantu lomba, mengulur waktu mereka, memperpanjang penderitaan kami.

Tibalah saatnya mengumumkan kategori kami, kategori aplikasi. JUARA TIGA : E-MAGINE. Bukan tim kami. Kami bingung akan mengubur harapan kami dalam-dalam atau berharap lebih tinggi lagi. Kami memutuskan untuk berharap lebih ketika samar-samar di ujung suara sana, pembawa acara menyebut nama tim kami setelah menyebut kata juara dua. Tim teman kami sama kagetnya dengan kami. Tidak ingin membuat peserta lain menunggu, aku mewakili tim beranjak dari kursi dan menerima hadiah di panggung. Saat menerima hadiah bersama juara tiga dan juara satu, aku teringat lagi bagaimana bahkan dua hari yang lalu status kami bukanlah tim finalis. Sebuah wildcard dari panitia karena ada tim yang mengundurkan diri, membuat kami saat ini berdiri di sini. Jika saja waktu itu kami memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan emas itu, tidak akan ada cerita seperti ini. Tidak pernah ada kami di sana.

Selesai menerima hadiah dan kembali ke kursi, ternyata kejutan tidak sampai di situ. Saat kami dan kedua tim lainnya sedang dalam euforia kemenangan, pembawa acara membacakan pemenang kategori design. Dan ternyata kawan sekampus kami yang memenangkannya. Itu artinya kontingen dari UGM memenangkan lomba di masing-masing kategorinya. Kami pun tersenyum bangga. Lomba usai dengan kejayaan UGM di dalamnya.

Sepulang dari perlombaan, kami kembali ke tempat menginap kami masing-masing. Orang tua Fajri begitu bangga dengan apa yang kami raih. Kami pun senang bisa membahagiakan mereka. Bercerita dengan beliau-beliau tentang perjalanan kami saat makan malam pun menambah kehangatan suasana malam itu. Setelah itu, kami harus istirahat karena esoknya harus sudah kembali ke Jogja menempuh perjalanan 8 jam lagi.

Kami menyadari bahwa kami penuh keberuntungan, tapi bukan kebetulan. Kami bisa berhasil membalikkan posisi 6 menjadi posisi 2 bukan tanpa alasan. Alasan utama adalah tidak menyerah, bekerja keras dan serahkan sisanya pada Allah. Keberuntungan datang pada mereka yang sudah berusaha, bukan pada mereka yang diam dan menunggunya datang setiap saat.