“Untuk adik-adik mahasiswa muslim, kami sudah pisahkan makanan nusantara di sebelah sana. Silahkan dinikmati.”, kalimat ini selalu diucapkan pembawa acara hampir di setiap acara yang kami ikuti saat KKN dua tahun yang lalu, saat tiba waktunya bersantap. Makanan nusantara yang dimaksud di sini adalah makanan yang tidak haram dimakan oleh mayoritas mahasiswa KKN yang beragama muslim. Tempat KKN kami 100% masyarakatnya adalah pemeluk agama Kristen. Jadi wajar saja, jika ada acara tertentu, mereka menyajikan makanan-makanan yang mungkin tidak boleh kami makan. Kenapa mereka susah-susah memisahkan makanan tersebut? Ya karena mereka sangat mengerti kami yang kadang susah membedakan mana yang haram, mana yang halal, saat makanan itu ada dalam satu meja. Ini adalah satu dari sekian banyak contoh toleransi yang kami pelajari dari mereka saat kami KKN di pulau ujung negeri Indonesia, Pulau Marampit.

Pulau Marampit secara geografis memang bukan pulau paling ujung negara ini, tapi merupakan salah satu pulau terluar di Indonesia, hanya kalah luar dengan Pulau Miangas. Saking luarnya pulau ini, butuh 2 hari 2 malam perjalanan kapal dari pelabuhan Manado untuk menuju Pulau Marampit ini. Belum lagi ancaman badai Laut Sulawesi yang selalu mengancam pada setiap perjalanan.

Seluruh penduduk Pulau Marampit beragama Kristen Protestan di bawah naungan organisasi Gereja Masehi Injil Talaud (GERMITA). Penduduknya sangat mencintai dan bangga akan adat dan agamanya. Hampir di setiap acara, kedua unsur itu tidak dapat dipisahkan. Kenyataan bahwa seluruh penduduknya beragama Kristen, membuat kelompok kami waktu itu bertanya-tanya. Bagaimana nanti puasa kita disana, lebaran kita disana, karena memang waktu itu mayoritas kami sedang berpuasa. Kekhawatiran kami ternyata hanya bertahan sampai kami pertama menginjakkan kaki di pulau nan kecil itu.

Setiba kami di Pulau Marampit, waktu itu jam 12 siang dengan panas sangat terik, membuat sebagian kami melirik-lirik minuman menimbang-nimbang mau dibatal atau tidak puasa kami. Penduduk yang menyambut kami mengarahkan untuk menuju balai desa. Antara kaget atau heran, ternyata di balai desa itu sudah disediakan banyak masakan yang sudah disiapkan penduduk. Tentu kita bertanya-tanya, lho apa mereka ngga tahu kami lagi puasa. Seorang tetua desa yang memberi sambutan menjawab keraguanku itu. Beliau dengan rendah hati mengatakan, “Mohon maaf sekali kepada adik-adik mahasiswa yang sedang menjalankan Puasa Ramadhan. Masakan yang terhidang ini adalah adat kami dalam menyambut tamu. Kami sengaja hidangkan untuk teman-teman yang memang sedang tidak berpuasa hari ini.”. Jawaban yang membalas keegoanku, seakan-akan semua teman sedang berpuasa. Ada teman wanita yang sedang tidak berpuasa, 3 teman kami yang non-muslim, dan teman-teman lain yang memutuskan untuk putus puasanya hari itu. Kami sama sekali tidak menyangka akan disuguhkan praktik toleransi yang begitu nyata begitu kami tiba.

Penduduk Marampit sangat ramah dan sangat menghormati tamu. Kami tinggal menyebar di rumah-rumah warga yang sudah ditunjuk kepala desa. Satu rumah menampung sekitar 1-3 mahasiswa. Kami ditempatkan di kamar terbaik di rumah warga yang kami tinggali. Kamar tersebut biasanya dipakai anak-anak mereka yang kebetulan sedang merantau di luar pulau. Kami dianggap seperti keluarga bahkan diperlakukan seperti anak-anak mereka sendiri.

Saat lebaran datang, saat dimana kami sedang rindu-rindunya suasana lebaran di rumah, makan opor dan berkumpul dengan keluarga. Tapi penduduk Marampit sepertinya punya cara lain menghibur kami. Mereka bergotong royong membersihkan balai desa untuk kami pakai sholat Ied di hari lebaran. Mereka bahkan membuat menu khas lebaran seperti ketupat dan opor ayam. Ayam di sana adalah barang mahal, tidak seperti di Jawa. Jadi menu ini adalah menu yang cukup mewah. Sungguh kami seperti berlebaran sendiri dengan suasana yang hampir sama dengan keluarga yang baru pula.

Penduduk Marampit mungkin awam tentang pengetahuan teori tetekbengek toleransi dsb. Tetapi mereka mampraktikkan jauh lebih baik dengan orang yang paham toleransi. Saat kami sebagai mayoritas datang ke tempat mereka yang minoritas, kami beralih status menjadi minoritas dalam hal agama. Tapi apa mereka begitu memedulikan urusan mayoritas minoritas ini? Tidak. Yang mereka pedulikan adalah hal baik dalam urusan berhubungan dengan sesama manusia. Kita seharusnya banyak belajar dari mereka untuk urusan itu. Tidak bisa kami bayangkan bila mereka adalah sama dengan mayoritas kami yang saat ini terlalu mengkotak-kotakkan sesuatu. Menganggap orang lain yang beda agama adalah ancaman. Menganggap orang lain yang seagama tapi beda pandangan politik adalah musuh. Menganggap orang lain yang satu pandangan politik tapi beda pendapat adalah masalah. Kita mungkin lupa pesan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib, “Dia yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan.”. Sekarang kita tahu, penduduk Marampit justru lebih fasih mempratikkan pesan Sayyidina Ali daripada kebanyakan kita sekarang.