Tidak sedikit mahasiswa semester akhir yang sedang berjuang merampungkan pendidikan S1 nya galau akan masa depan. Tidak cukup dengan beban skripsi yang sedang dikerjakannya, mereka juga memikirkan akan kemana setelah lulus nanti .Pilihannya memang biasanya hanya dua, langsung kerja atau lanjut kuliah lagi. Setidaknya itu juga yang saya alami hampir 4 tahun yang lalu. Keinginan untuk langsung bekerja mengaplikasikan ilmu S1 sama besarnya dengan melanjutkan kuliah S2 dengan tawaran-tawaran yang ada saat itu.

Long story short, pada saat itu saya memilih untuk melanjutkan S2 dengan program FastTrack , tetapi baru lulus setelah 6 semester. Kalau mau baca cerita tentang S2 saya, bisa dibaca di sini. Apakah dengan perspektif saya saat ini, keputusan saat itu tepat? Jawabannya adalah kurang tepat. Tapi saya percaya bahwa keputusan yang tepat adalah keputusan terbaik yang dibuat saat itu dengan perspektif dan pertimbangan yang ada pada saat itu. Jika ternyata di masa depan, dengan berubahnya perspektif kita, keputusan masa lalu bisa jadi kurang tepat. Tinggal bagaimana kita memperbaikinya saat ini.

Kembali lagi ke persoalan umum melanjutkan S2. Alasan beberapa teman yang saya tanya tentang keinginannya lanjut S2 bermacam-macam. Ada yang beralasan bahwa gelar S2 itu bergengsi, bisa memberikan kesempatan atau peluang kerja lebih baik. Ada juga yang beranggapan untuk melengkapi ilmu yang diraih di program sarjananya. Nah alasan yang paling banyak adalah karena belum atau tidak punya rencana karir yang jelas setelah lulus S1. Ya, istilahnya lanjut S2 cuma karena pelarian, biar tidak dikira menganggur.

Apakah punya keinginan melanjutkan S2 seperti tadi salah? Tentu saja tidak. Kembali lagi ke niat dan bagaimana cara kita menjalaninya. Melanjutkan S2 dengan biaya sendiri dengan rencana-rencana seperti di atas, sah-sah saja. Uangnya uang Anda sendiri, tidak ada hak orang lain yang dikorbankan. Apalagi melanjutkan kuliah S2 dengan biaya sendiri mungkin lebih tidak merepotkan dibanding dengan teman-teman pejuang beasiswa yang harus menyiapkan segala macam dokumen dan skor dengan waktu yang tidak sebentar. Apabila sudah yakin mau melanjutkan S2 dan punya dana sendiri, biasanya mahasiswa begitu lulus S1 bisa langsung lanjut ke S2 dengan pilhan studi yang lebih bebas. Lulusan S1 Teknik Arsitektur mau S2 Manajemen di Rusia boleh. Dengan biaya sendiri seperti ini menurut saya lebih cepat masuk S2 dibanding dengan mahasiswa yang masuk melalui jalur beasiswa.

Lain halnya dengan program beasiswa yang pilihan studinya tergantung dari aturan pengelola beasiswa. Secara waktu, melanjutkan S2 dengan beasiswa juga cukup lama untuk urusan seleksi saja. Untuk tahu hasil sukses atau gagal, bisa memakan waktu sekitar 3-4 bulan. Jika sukses, butuh beberapa bulan lagi untuk mulai studi. Jika gagal, butuh waktu ekstra untuk mencobanya lagi. Waktu seperti ini juga harus menjadi perhitungan.

Soal hitung-hitungan waktu, bisa jadi saat teman-teman yang melanjutkan S2 dengan biaya sendiri sudah lulus, teman-teman yang memutuskan langsung bekerja sudah posisi yang lumayan dan pengalaman kerja yang banyak, sementara kita (mahasiswa jalur beasiswa) baru memulai studi. Ketika kita sudah lulus S2 nanti, teman-teman seangkatan sudah bekerja setidaknya 3-4 tahun. Selisih waktu yang banyak itu tentu harus dipikirkan karena itu adalah masalah investasi waktu. Perlu dipertimbangkan cost benefit atas investasi waktu selama itu. Pertanyaan kembali muncul, apakah dengan gelar S2 itu kita bisa mendapat pekerjaan (dengan posisi dan gaji) yang lebih baik daripada teman yang langsung berkarir setelah lulus S1?

Sekarang kita tahu bahwa melanjutkan kuliah S2 langsung setelah S1 butuh investasi waktu, tenaga dan pikiran. Apalagi teman-teman dengan jalur beasiswa yang butuh komitmen waktu untuk siapkan kelengkapan dan kompromi pilihan studi. Jadi, jangan berpikir melanjutkan kuliah S2 itu gampang, butuh effort dan komitmen yang kuat. Kalau memang di industri yang ingin kita geluti nanti, tidak terlalu butuh gelas S2 atau keuntungan yang diraih dari studi S2 tidak sepadan dengan investasi yang perlu dilakukan, ya jawaban simplenya tidak perlu lanjut. Langsung bekerja adalah pilihan yang lebih bijak. Jangan pernah berpikir sekali lagi untuk melanjutkan S2 karena gengsi, karena tidak sepadan dengan perjuangannya.

Lain keadannya jika kita pada posisi bekerja dan ingin melanjutkan S2. Kalau ada kebutuhan seperti itu untuk mendongkrak karir, pilihan tepat memang melanjutkan studi. Alasan yang lebih jelas seperti ini sebenarnya yang dibutuhkan untuk melanjutkan S2. Beberapa beasiswa menyaratkan pelamar mempunyai pengalaman kerja, jadi program seperti ini memang lebih terarah untuk pengembangan karir.

Melanjutkan S2 (apalagi dengan beasiswa) bukanlah pilihan yang mudah. Perlu komitmen dan investasi waktu, pikiran dan tenaga. Memiliki gelar S2 tidak bisa menjamin seseorang mendapat pekerjaan bagus, sedangkan gelar S1 cukup bisa digunakan untuk mulai berkarir. Pada kenyataannya, gelar S2 itu sendiri tidak banyak berperan membantu keberhasilan karir pada industri tertentu. Pada banyak situasi di lapangan pekerjaan, kinerja pekerajaan biasanya tidak terkait dengan gelar pendidikan yang kita miliki.

Jika kita sudah paham semua konsekuensi tadi, baru kita bisa pikirkan dan putuskan, apakah langsung melanjutkan S2 masih pilihan yang bijak atau lebih baik memulai karir dan mungkin melanjutkan S2 saat karir membutuhkannya. Saya tidak mencoba untuk mengurungkan niat siapapun untuk melanjutkan S2. Saya hanya berkaca dari pengalaman sendiri yang pada saat itu kurang punya waktu memikirkan hal ini lebih dalam, agar teman-teman yang masih mempunyai waktu untuk berpikir, dapat memutuskan pilihan terbaiknya. Selamat memilih. 🙂